Morning Lesson @ Lion King movie

Pagi ini saya disuguhkan dengan tayangan lion king movie di salah satu tivi swasta. Filem ini sebetulnya bukan pertama kali saya tonton, entah sudah berapa kali saya bolak balik melihatnya, apalagi ketika itu memang saya pernah memiliki kepingan cd nya.
Pada salah satu adegan digambarkan bagaimana sang pangeran kecil mengajak teman mainnya ke area terasing. Area ini sebetulnya telah menjadi perhatian sang raja yang notabene ayahnya agar tidak dijadikan tempat bermain. Tapi itulah manusia. Dilahirkan dengan sifat dasar “ingin tahu” jadi seperti hukum fisika, semakin ditekan maka daya baliknya tentu semakin kuat.
Rasa ingin tahu lah yang membuat sepasang bocah ini berlari menuju tempat larangan itu. Terbelalak mata keduanya ketika melihat pemandangan yang dalam ukuran mereka tentu menakjubkan. Sampai terjadilah sedikit kekacauan dengan hadirnya sang hewan pengganggu. Untung saja sang pangeran tidak mengalami hal-hal yang mencelakakannya. Naluri sang ayah yang membawanya sigap berlari menuju tempat kekacauan yang terjadi.
Saya memetik pelajaran yang mungkin bisa dijadikan hikmah bagi para orang tua. Seiring dengan pengalaman asam garam yang dimiliki orang tua tentu mereka selalu menginginkan yang terbaik bagi buah hati mereka. Salah satu upayanya adalah mencegah mereka terjatuh pada kebinasaan.
Maka dalam otak para orang tua tentu kata “tidak” atau “jangan” menjadi salah satu modal agar anak mereka bisa menjaga diri saat sang orang tua tidak disisi. Hanya saja mengeluarkan kata-kata larangan ini di telinga anak tentu butuh strategi tersendiri. Langsung mengeluarkan kata “jangan” tanpa prolog tidak jarang malah membuat naluri curious sang anak jadi meletup. Alhasil pelanggaran lah yang akan terjadi.
Menggambarkan mereka pada hikmah mungkin itu salah satu solusi agar si anak jadi yakin bahwa larangan orang tua adalah demi kebaikan mereka. Menjelaskan resiko tanpa melebih-lebihkan dengan mitos juga tidak boleh dilupakan oleh para orang tua. Terkadang membumbui dengan mitos juga membuat otak si anak berfantasi dan seperti ada ajakan untuk mewujudkan fantasi itu. Sebagai contoh, melarang anak agar tidak bermain di area berbahaya yang jauh dari rumah tidaklah bijak kalo sambil dibumbui dengan mitos-mitos adanya makhluk halus disana. Tapi dengan menyampaikan resiko sepertinya bisa menggugah keyakinan mereka untuk lebih waspada terhadap lingkungan, misalnya kalau di daerah tersebut yang cenderung gelap dikhawatirkan ada benda-benda tajam yang bisa melukai, jika mereka butuh pertolongan tentu lebih sulit menolong karena letaknya yang jauh dari keramaian.
Jadi orang tua itu memang harus smart, dan saya yakin setiap orang tua bisa jadi pribadi yang smart sesuai keunikan buah hati mereka. Biiznillah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s