Belajar bersyukur

Beberapa malam yang lalu saya tersenyum melihat dua fenomena di depan mata saya.
Fenomena pertama adalah yang ditunjukkan tukang pempek palembang. Saya mengenal bapak yang satu ini pertama kali di depan masjid teja suar ketika gerobak pempeknya pertama digelar disana. Sebut saja namanya Uda Baik. Hari demi hari berjalan qoddarulloh usahanya beranjak sukses mulai berganti gerobak dengan yang lebih baik dan lebih besar sampai akhirnya terakhir bertemu di sebuah ruko yang cukup mapan. Obrolan dengan Uda terungkap kalau ruko ini dikontraknya dengan biaya 7 juta pertahun. Biaya yang tidak sedikit. Pelajaran dari uda yang bisa saya ambil adalah lokasi rukonya yang persis menempel di sisi masjid desa yang megah. Memang tidak setiap sholat lima waktu saya disitu. Tetapi paling tidak keumuman masyarakat sekarang, sekurang-kurangnya memakmurkan masjid itu pada waktu maghrib dan isya. Hal yang mustahil kalau setiap adzan berkumandang diwaktu-waktu sholat fardhu tidak terdengar di telinga Uda baik. Posisi warung saya yang agak jauh dari letak ruko nya saja bisa mendengar dengan jelas. Tapi kemana uda ketika iqomah sudah berkumandang? Sedang apa raganya ketika laki-laki lain mengikuti imam hingga salam diucapkan?
Pelajaran kedua adalah ketika di malam yang sama saya sholat isya di masjid wilayah kemantren. Saat itu masih hujan cukup deras. Setelah solat ditunaikan saya bergerak menuju halaman parkir. Di dalam kendaraan saya tersenyum melihat seorang lelaki duduk berjongkok mengapit dua kakinya. Menunjukkan gerakan kedinginan. Tidak lama ada seorang jamaah mendekatinya. Si lelaki sebut saja mas oke, berjalan mendekati sepedanya. Di dekat sedikit cahaya saya membaca ada tulisan “TAHU SUMEDANG” di bakul yang tersimpan di bagian belakang sepedanya. Baru tau saya kalau mas oke adalah seorang tukang tahu keliling. Tersenyum saja sambil membatin, apa yang ada di benaknya saat sampai di mesjid tadi dan melihat beberapa hamba Alloh lain sedang bersimpuh dipimpin seorang imam? Bila menghitung waktu mestinya mas oke sampai ke masjid sebelum salam diucapkan sang imam isya malam itu.
Inilah dua fenomena buat saya belajar. Teringat perumpaan yang Alloh sampaikan di surat al Kahfi.
Bukankah seharusnya kita menjadikannya sebagai ibroh kalau kita tidak berkuasa sedikitpun mendatangkan rezeki. Sekuat apapun daya kita kerahkan untuk membanting tulang memeras keringat, tak akan pernah rupiah datang kalau Alloh tidak menghendakinya. Sedikit mungkin yang kita dapatkan, tapi nikmat rasanya di jiwa dan raga kalau kita bisa mensyukuri di hadapan Alloh sesuai tuntunan Rasululloh. Yang sederhana adalah ketika azan di masjid berkumandang apalagi masjidnya di depan mata, alangkah damai jika kita bersama-sama menghadap Yang Kuasa, Sang Pemberi Rezeki, Yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki siapapun hambanya. Bersimpuh, meneteskan air mata jika mampu, damai………

Iklan

One response »

  1. Firman Allah : “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu ( sumber ) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” ( Al-A’raf : 10).
    itulah manusia…… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s