Pentingnya komunikasi

Barusan ada pasien yang nampak pucat datang diantar keluarganya ke tempat kerja saya. Dari pucatnya sepintas saya menduga yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda anemia. Dari obrolan singkat saya dengan kedua orang itu terkesan bahwa terjadi miskomunikasi antara mereka dengan pihak rumah sakit yang sebelumnya mereka kunjungi.
Dalam banyak hal saya ingat bahwa kadang apa yang kita inginkan jika tidak disampaikan dengan cara penerimaan yang sesuai dengan lawan bicara maka akan dipersepsikan lain oleh yang menerima. Ambil contoh kasus yang barusan, sang pasien sebetulnya telah membawa surat pengantar berobat dari dokter keluarga mereka. Sampai di rumahsakit mereka berhadapan dengan petugas rumah sakit yang “mungkin” merasa surat itu belum banyak “bicara”. Alhasil tambahan kalimat dari si pembawa surat menyebabkan petugas rumkit itu mempersepsikan lain dengan yang dimaui dokter yg menulis surat pengantar itu. Hingga mereka dengan kendaraan roda dua nya rela menempuh perjalanan sekitar 25km ke tempat kerja saya. Seharusnya ini tidak terjadi jika komunikasinya terjalin dengan baik.
Modal untuk berkomunikasi dengan baik tidak hanya kepandaian berbahasa tentunya, tetapi mencoba membuat pendekatan yang terbaik sesuai dengan lawan bicara. Butuh strategi yang gampang-gampang susah sepertinya.
Kalau ingat pepatah “banyak jalan menuju roma” maka saya menganalogikan meskipun jalannya banyak tapi kalau asal ambil jalan boleh jadi kita tidak akan sampai ke roma. Bukan begitu?

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s