belajar dari tukang bubur ayam

Kemaren ngobrol dengan tukang bubur ayam di depan kantor. Awalnya saya buka pembicaraan tentang waktu dagang dia. Biasanya jam kerjanya mulai pagi buta sampai matahari agak tinggi dan mulai terasa hangatnya belum lagi panas. Tentu bisa dikira jam berapa itu. Nah belum lama kan kita lewati bulan mulia romadhon. Artinya jam kerja si mang bubur harus bergeser mestinya. Masih ingat di pikiran saya, tahun yang lalu mangbur (saya sebut begitu biar praktis ya) bergeser jualan menjadi penjaja es bubur kacang ijo keliling menjelang sore. Tapi ternyata tahun ini lain.
Ya, komentarnya yang mengalir membuat aku jd punya bahan untuk mencatat disini. Katanya tahun ini sudah diniatkan untuk berpuasa, sang istri yang juga berjualan bubur ayam di tempat yang lain jg sama tidak berdagang selama bulan suci itu. Niatnya khusus biar total beribadah, begitu kurang lebih ujarnya. Tidak sampai disitu, kalimat berikutnya mengajarkan saya lebih mensyukuri nikmat Alloh subhanahu wa ta’ala. Begini cuplikan kalimatnya :
“Ternyata sama saja rejekinya pak, teman-teman yang tetap jualan sebulan kemarin dengan saya yang meniatkan hanya untuk berpuasa”
Uh nikmatnya totalitas romadhon. Biiznillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s